salah satu hewan endemik sulawesi tengah

Jumat, 09 April 2010

titrasi asan basa

BAB I
LANDASAN TEORI

Larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentukanya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen.
Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsesntrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Titrasi adalah cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral).
BAB II
PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum :
1. Untuk melatih keterampilan melakukan titrasi asam basa serta menentukan kadar asam cuka perdagangan yang terjual di pasaran.
2. Agar mengenal peralatan laboratorium secara nyata.
Alat :
1. Statif dan pegangan (klem)
2. Buret
3. Gelas Kimia / Beker gelas
4. Labu Erlenmeyer
5. Labu Reaksi 250 ml
6. Pipet tetes
7. Gelas Ukur atau pipet volumetric
8. Corong
9. Neraca Ohaus
Bahan :
1. Larutan NaOH 0,1 M
2. Larutan HCL 1 M
3. Cuka (CH3COOH) Merk : Naco 25 %
4. Air (H2O)
5. Indikator Fenolftealin (PP) mempunyai Trayek pH 8,0 – 9,6
Unjuk Kerja :
1. Menyiapkan alat serta bahan bahannya.
2. Merancang alat titrasi seperti Buret, statip, klem, sehingga tercipta alat titrasi siap guna.
3. Menyiapkan NaOH 0,1 yang baru (sekarang membuat sekarang digunakan) secukupnya
4. Menyediakan larutan HCl 1 M sebanyak 25 ml (untuk 5 kali percubaan)
5. Menyiapkan larutan Cuka Sampel (CH3COOH) merk Naco 25 %
6. Menyiapkan Indikator (pp) seperlunya.

Prosudur Titrasi HCl :
1. Mencuci buret dengan cara mengalirkan air bersih pada buret.
2. Memasukan larutan NaOH kedalam buret dengan corong
3. Mengukur larutan HCl dengan gelas ukur sebanyak 5 ml dan memasukanya kedalam labu Erlenmeyer
4. Menetesi Indikator PP 2 tetes dengan pipet tetes
5. Membaca skala Buret Awal
6. Letakan labu yang akan dititrasi.
7. Membuka kran pada buret secara perlahan sampai titran NaOH keluar.
8. Mengguncangkan selalu labu Erlenmeyer agar zat titran Bercampur dengan HCl sehingga menjadi zat titrat.
9. Setelah warna ada sedikit perubahan, mengurangi laju dari zat titran
10. Mengusahakan agar warna dari zat titrat semuda mungkin.
11. Setelah tercapai warna merah yang muda, Menghentikan titrasi
12. Membaca skala Buret Akhir.
13. Mengulang langkah 1 – 11 hingga 5 kali percubaan
14. Melaporkan hasil kegiatan
Prosudur Titrasi Cuka Sampel :
1. Mencuci buret dengan mengalirkan air pada buret
2. Mengambil larutan cuka sample sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur
3. Memasukan larutan cuka sample ke-dalam labu reaksi 250 ml
4. Menambah aquadest atau air sampai dengan batas dari labu reaksi 250ml
5. Mengguncangkan labu reaksi agar tercampunya larutan cuka sample dengan air.
6. Menuangkan larutan cuka sample yang telah diencerkan kedalam beker gelas
7. Memasukan larutan NaOH kedalam buret dengan corong
8. Mengukur larutan Cuka sample yang diencerkan dengan gelas ukur sebanyak 10 ml dan memasukanya kedalam labu Erlenmeyer
9. Menetesi Indikator PP 2 tetes
10. Membaca skala Buret Awal
11. Letakan labu yang akan dititrasi.
12. Membuka kran pada buret secara perlahan sampai titran NaOH keluar.
13. Mengguncangkan selalu labu Erlenmeyer agar zat titran Bercampur dengan Cuka sample sehingga menjadi zat titrat.
14. Setelah warna ada sedikit perubahan, mengurangi laju dari zat titran
15. Mengusahakan agar warna dari zat titrat semuda mungkin.
16. Setelah tercapai warna merah yang muda, Menghentikan titrasi
17. Membaca skala Buret Akhir.
18. Mengulang langkah 8 – 17 hingga 5 kali percubaan. Jka zat titran habis ulangi langkah ke-7
19. Menimbanglah Cuka dengan neraca ohaus untuk mencari Massa Jenis, dengan cara mengambil 10 mL cuka sample lalu memasukan kedalam gelas ukur dan menimbang. Setelah itu menimbang berat dari gelas ukur yang digunakan. Berat hasil dari timbangan di kurangkan dengan berat gelas ukur kemudian dibagi 10 mL untuk 1 mL.
20. Melaporkan hasil kegiatan
Dari seluruh kegiatan penggunaan alat untuk melakukan percobaan dangan zat yang berbeda saya selalu melakukan pencucian secara bersih agar zat lain tidak terkontaminasi atau bereaksi.
Menurut Teori :
Untuk Menentukan NaOH sebenarnya diperlukan :
Zat titrat NaOH yang digunakan : 0,1 M
Ma . x . va = Mb . n . vb
1 M . 1 .5mL = 0,1 M . 1 . vb
5 mL = 0,1 . vb
Vb = 5 / 0,1
= 50 mL NaOH
Jadi Untuk mentitrasi HCl 1 M memerlukan 50 mL NaOH 0,1M (menurut Teori)




Menurut dari hasil percobaan maka didapat hasil sebagai berikut:
Percobaan I
Ma . x . va = Mb . n . vb
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,5 ml
Ma . 5 ml = 4,85 mmol
Ma = 4,85 mmol/5 ml
= 0,97 M
Percobaan II
Ma . x . va = Mb . n . vb
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,4ml
Ma . 5 ml = 4,84 mmol
Ma = 4,84 mmol/5 ml
= 0,968 M
Percobaan III
Ma . x . va = Mb . n . vb
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,6 ml
Ma . 5 ml = 4,86 mmol
Ma = 4,86 mmol/5 ml
= 0,972 M
Percobaan IV
Ma . x . va = Mb . n . vb
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,3 ml
Ma . 5 ml = 4,83 mmol
Ma = 4,83 mmol/5 ml
= 0,966 M
Percobaan V
Ma . x . va = Mb . n . vb
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,5 ml
Ma . 5 ml = 4,85 mmol
Ma = 4,85 mmol/5 ml
= 0,97 M
rata-rata molar HCl = 0,97 M + 0,968 M + 0,972 M + 0,966 M + 0,97 M
5
= 0.9692 M
Ma . x . va = Mb . n . vb(rata-rata)
Ma . 1 . 5 ml = 0,1 M . 1 . 48,46 ml
Ma . 5 ml = 4,846 mmol
Ma = 4,846 mmol/5 ml
= 0.9692 M
Jadi dari seluruh kegiatan percobaan maka didapat konsentrasi HCl yaitu 0,9692 M
Selisih molaritas:
Selisih = M – M perc
= 1 M – 0,9692 M
= 0,0308 M
Dari selisih diatas terjadi sangat sedikit kesalahan ini dikarenakan karena :
1. Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.
2. Adanya kebocoran pada alat titrasi
3. Kurang memadainya alat titrasi, terletak pada angka ketelitian alat.
4. Kurang tepatnya pada saat pembuatan HCl, dikarenakan pada HCl pekat tidak terdapat label yang menunjukan konsentrasi dari HCl.
5. Terjadi perubahan skala buret yang tak konstan
6. Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator
Ternyata dari hasil titrasi yang dilakukan, didapat konsentrasi HCl yaitu 0,9692 M, sedangkan dari hasil pengenceran yang dilakukan diperoleh konsentrasi HCl yaitu 1 M. Terjadinya perbedaan konsentrasi tersebut, mungkin disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam pengenceran larutan sebab kadar dari larutan HCl pekat tidak diketahui dalam penentuan berapa volum HCl yang akan diencerkan dan hal tersebut dapat pula disebabkan oleh kekurangtelitian dalam melakukan proses titrasi

Pembahasan pembuktian kadar cuka yang beredar dipasaran :
Reaksi antara CH3COOH dan NaOH disajikan seperti di bawah ini:
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)
Dalam 10 ml larutan cuka terdapat mmol cuka sebesar:
mmol cuka (CH3COOH) = mmol NaOH (berdasarkan reaksi)
= 9,3 ml x 0,1 M
= 0,93 mmol.
Dalam 250 ml cuka ada = 250 ml/10ml x 0,93 mmol
= 23,25 mmol.
Dalam 10 ml cuka (CH3COOH) mengandung massa jenis sebesar = 0,98 gr/ml sehingga massa cuka dalam 10 ml adalah:
Berat cuka = massa jenis( ) . v
= 0,98 . 10 mL
= 9,8 gram
Dalam 10 ml cuka juga terdapat 23,25 mmol CH3COOH sehingga massa dari cuka tersebut dapat dihitung dengan mempergunakan persamaan mol yaitu:
Mol = massa zat/Mr (untuk molekul)
23,25 mmol = massa zat/60 mgr/mmol
massa zat = 23,25 mmol x 60 mgr/mmol
= 1395 mgr = 1,395 gr
Jadi dalam 250 ml cuka terdapat 1395 mgr atau 1,395 gr cuka (CH3COOH).
Maka untuk menghitung kadar dari cuka sampel dapat dipergunakan persamaan sebagai berikut:
Kadar = massa zat hasil hitungan
massa zat semula
= 1,395 gr
9,8 gr
= 14,2 %
Jadi kadar cuka dalam cuka sampel adalah 14,2%.
Dalam hal ini terjadi juga kemungkinan terjadi suatu kekurangtelitian dalam percobaan dimana dalam label cuka sampel tertulis kadarnya sebesar 25% sedangkan kadar cuka yang didapat dari hasil titrasi adalah 14,2%. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Perubahan skala buret yang tidak konstan.
2. Dalam produksi cuka tidak sesuai dengan label yang di siratkan pada label
3. Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.
4. Adanya perbedaan massa jenis yang mencolok dari masing-masing cuka sampel.
5. Kurang pastinya kadar dari setiap cuka sampel yang digunakan dalam titrasi.








BAB V
PENUTUP

Simpulan :
- Tujuan dari pada titrasi tidak lain dari pada netralisasi yaitu terjadi reaksi asam dengan basa dan untuk mencapai titik ekivalen.
- Perubahan skala buret yang tidak konstan.
- Dalam produksi cuka tidak sesuai dengan label yang di siratkan pada label
- Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.
- Adanya perbedaan massa jenis yang mencolok dari masing-masing cuka sampel.
- Kurang pastinya kadar dari setiap cuka sampel yang digunakan dalam titrasi.
- Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.
- Kurang memadainya alat titrasi, terletak pada angka ketelitian alat.
- Kurang tepatnya pada saat pembuatan HCl, dikarenakan pada HCl pekat tidak terdapat label yang menunjukan konsentrasi dari HCl.

Demikianlah laporan praktikum saya. Dalam hasil laporan masih banya kukurangan maupun kesalahan yang disengaja maupun tak disengaja, maka dari pada itu pelapor mohon maaf apabila ada dari pembaca yang kurang berkenan terhadap laporan saya ini. Terimakasih.










DAFTAR PUSTAKA



Soma, Wayan. 2004. Panduan Belajar Kimia Kelas XI semester 2 Program Ilmu Pengetahuan Alam. Singaraja.
Nana Sutresna, Drs. 2003. Pintar Kimia Jilid 3 untuk SMU Kelas 3. Jakarta : Ganeca Exact.
Michael Purba, Drs. 1995. Ilmu Kimia untuk SMU Kelas 2 Jilid 2A. Jakarta : Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional (2003) Kurikulum 2004 Standar kompetensi mata Pelajaran kimia SMA dan Madrasah Aliyah. Jakarta : Depdiknas
www. E-dukasi.net
www.e-genius.org
Video pendidikan PUSTEKOM KIMIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar